Aku – Puisi Chairil Anwar


AKU

Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943


Iklan

The Burning Season : Sebuah Perjuangan dari Cachoeira


Kepercayaan mengenai adanya Cirupira yang akan marah apabila hutan dirusak dan akan menyuruh jaguar untuk melawan perusakan hutan, menyebabkan masyarakat mulai berani untuk perlawanan terhadap perusakan hutan. Hal inilah yang coba dijelaskan dalam karya yang berjudul The Burning Season. Film ini merupakan cerita rakyat tepian dari hutan Amazone, Brazil. Di suatu daerah yang bernama Cachoeira, demikian sebagian masyarakat menyebut daerah yang berpusat pemerintahan di Xapuri, Brazil. Sebagian besar penduduk di darah ini memiliki pekerjaan sebagai penyadap karet dihutan. Penduduk ini merupakan sebuah masyarakat tepian serta para perambah hutan. Kelangsungan hidup mereka sehari-hari sangat bergantung kepada hutan Amazone. Salah satu dari keluarga yang bekerja sebagai penyadap karet tersebut adalah keluarga Mendes.

Keluarga Mendes merupakan salah satu dari banyaknya keluarga di daerah Cachoeira yang menggantungkan hidupnya sehari-hari dengan menyadap karet dari dalam hutan Amazone. Pada suatu hari Mendes kecil mengikuti setiap langkah sang ayah untuk menyadap karet di hutan. Hasil yang di dapatkan Mendes kecil dan ayahnya cukup banyak, sehingga mereka optimis dapat memperoleh uang yang banyak. Dengan menaiki kano yang sudah cukup berumur, pasangan ayah dan anak ini pergi ke pusat kota untuk menjual hasil panen mereka hari itu. Setelah tiba di pusat kota, mereka berdua bergegas menuju sebuah toko yang dimiliki seorang juragan kaya di kota. Hasil panen mereka pun ditimbang oleh sang juragan. Juragan tersebut berkata bahwa angka tersebut menunjukan angka 40 kg. Akan tetapi hal ini memunculkan pertentangan.Seorang anak muda berkata “Bukankah timbangan itu menunjukan angka 70 kg.” Hal ini mendapat jawaban yang kasar dari sang juragan.
“Jika saya berkata 40 kg, maka timbangan ini akan menurutinya”, demikian sang juragan berkata.
“Tapi bukankah timbangan itu 70 kg?” Tanya pemuda itu makin keras.
“Engkau pasti masih baru di sini anak muda”. Marah sang juragan hingga menggebrak meja.
“Baiklah ini memang 40 kg”, ujar ayah Mendes yang mencoba untuk menengahi.
“Nah, orang tua ini lebih bijak dari kau hai anak muda. Lekaslah kau tanda tangan di sini hai orang tua”. Jawab balik sang juragan yang egois ini.Pada akhirnya, Mendes dan ayahnya mencapai kesepakatan untuk selanjutnya menandatangani buku tanda terima. Akan tetapi, setelah dihitung oleh juragan mereka hanya mendapatkan 10 cruzeiro. Hal ini dikarenakan terdapat perhitungan lainnya, yaitu hutang sebesar 25 cruzeiro serta bunganya sebesar 5 cruzeiro. Diperjalanan pulang Mendes kecil menanyakan kepada ayahnya mengenai kebenaran hal tersebut, akan tetapi ayahnya tetap meyakinkan Mendes kecil bahwa ia harus tetap menuruti apa yang dikataka sang juragan. Karena ia hanya berharap agar mereka mendapatkan hidup yang lebih baik pada esok hari.Ketika mereka sampai di rumah yang bentuknya sangat sederhana, dengan atap yang terbuat dedaunan kering yang di sanggahi dengan kayu serta alas yang berbentuk panggung dengan kayu yang dilapisi dengan kulit kayu, secara tiba-tiba datang seorang pemuda yang sebelumnya mereka temui di kota, tepatnya di toko milik juragan tempat Mendes dan ayahnya menjual hasil panen. Tujuan pemuda ini datang ke rumah Mendes adalah untuk mempelajari cara menyadap karet dan sebagai imbalannya pemuda itu akan mengajarkan Mendes cara berhitung. Kemudian pemuda ini menanyakan siapa nama Mendes sebenarnya, lalu ia menjawab dengan nama Chico Mendes.

Pada tahun 1983 era pembangunan di Brazil sudah di mulai. Hutan-hutan yang dahulunya digunakan sebagai kawasan yang asri, dibuka demi kepentingan kemajuan serta pembangunan daerah-daerah. Daerah hutan Amazone juga termasuk dalam kegiatan pembukaan lahan oleh pemerintah Brazil. Company Bordon merupakan salah satu pihak yang mengambil keuntungan dari kegiatan ini. Demi permintaan daging di pasar internasional khususnya Eropa, perusahaan yang bergerak dibidang penjualan ternak ini berencana memperluas daerah peternakannya yaitu di daerah Cachoeira serta hutan Amazone. Cara yang mereka gunakan untuk membuka lahan adalah dengan membakar hutan. Cara ini mereka pilih karena merupakan cara tercepat untuk membuka lahan sebesar-besarnya. Sebelum mereka membakar hutan, terlebih dahulu mereka menebangi pohon-pohon besar dan sisanya mereka bakar. Setelah semua selesai mereka baru menanami rerumputan untuk peternakan milik Company Bordon yang dijaga oleh gerombolan koboi yang dipimpin oleh Darli Alves, seorang yang telah sepuluh tahun menjadi peternak dan rela melakukan apa saja demi ternaknya, termasuk menghilangkan nyawa seseorang.

Semakin maraknya pembukaan lahan, mengancam kehidupan masyarakat di sekitar hutan Amazone dan di daerah Cachoeira. Atas nama pembangunan dan kemajuan pemerintah juga menebang hutan demi pembangunan jalan. Hal ini melengkapi perusakan hutan yang terjadi. Keadaan inilah yang menyebabkan hutan Amazone, yang notabenya digunakan sebagai sumber mata pencaharian masyarakat menjadi rusak. Saat ini masyarakat-pun tidak lagi memiliki pekerjaan untuk menyambung hidup mereka. Dengan hilangnya pekerjaan maka mereka tak lagi sanggup memenuhi kebutuhan hidupnya, terutama sandang, pangan dan papan. Seorang pemuda kota yang masuk desa bernama Wilson Pinheiro, kini telah menjadi seorang aktivis lingkungan. Dengan bantuan dari seorang mahasiswi yang berasal dari Universitas Sao Paulo, Regina de Calvarlho, Wilson membentuk Serikat Pekerja Pedesaan atau Sindicato. Pembentukan organisasi ini telah membangkitkan kesadaran masyarakat bahwa mereka tertindas oleh sistem yang ada selama ini, bahkan mereka semakin dimiskinkan dengan program pembangunan dan kemajuan.

Diawali dari sebuah forum gereja, Pinheiro berusaha untuk menumbuhkan kesadaran para buruh bahwa selama ini mereka sebenarnya telah ditindas oleh para kaum pemilik modal dan para juragan yang kini menjelma menjadi penindas bagi masyarakat sekitar. Kondisi hutan yang semakin rusak, membuat hilangnya pekerjaan masyarakat menjadikan alasan kuat para masyarakat yang sebagian besar adalah para kaum penyadap karet dan perambah hutan untuk bersatu melawan ketidakadilan. Upaya ini pada akhirnya berhasil, kesadaran dan keberanian kaum buruh bangkit. Aksi damai menentang pemusnahan hutan dan pembuatan jalan pun berlangsung. Aksi protes demi aksi protes pun terus berlangsung. Hal ini menyebabkan konflik. Konflik kecil yang terjadi yaitu antara masyarakat Cachoeira dengan para pekerja bawahan penebangan. Aksi yang semakin gencar, membuat pihak Company Bordon gerah. Pihak pemodal ini menggunakan Kelompok Darli Alves untuk mengatasi aksi-aksi protes yang terjadi. Selain itu cara lain yang digunakan yaitu dengan menggerakan militer demi mengatasi gangguan keamanan nasional dalam pembangunan. Sementara itu disisi lain, Wilson Pinhiero berdebat dengan Chico Mendes. Chico kini sudah menjadi seorang pemuda yang kuat dan menjadi motor pergerakan bagi penduduk lokal. Perdebatan ini terjadi karena Pinhiero lebih mementingkan organisasi sedangkan Chico memilih agar masyarakat berpendidikan.

Di pihak lainnya Darli Alves mulai melakukan teror-teror untuk menakuti warga. Puncaknya adalah ketika Pinhiero terbunuh di kantor Sindicato dan Regina melarikan diri ke Sao Paulo. Terbunuhnya Pinhiero ini segera disiarkan oleh Chico melalui radio nasional Brazil. Berita ini segera tersebar luas ke semua masyarakat. Dampak dari terbunuhnya Pinhiero membuat organisasi dan masyarakat terguncang. Perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat kini menjadi sporadis dan tidak terorganisasi dengan rapi. Salah seorang pendudukpun menuntut balas atas kejadian ini. Kekerasan menjadi sebuah pilihan. Dibunuhlah salah satu pemimpin perusahaan Company Bordon yang bernama Nilo Sergio. Peristiwa ini kemudian menjadi sebuah pintu masuk bagi penyelesaian gangguan keamanan nasional dengan militerisme. Operasi militer pun dilakukan, semua masyarakat Cachoeira yang terkait dengan Sindicato ditangkap, di penjara dan disiksa dengan kejam. Satu persatu dari masyarakat mulai dilepaskan. Akan tetapi teror dan kekerasan struktural telah melemahkan pergerakan masyarakat. Kondisi sosial ekonomi pun makin parah. Tidak ada obat-obatan, dokter, rumah sakit dan sekolah. Semua akses sosial ditutup oleh pemerintah. Chico Mendes pun bertekad meneruskan perjuangan yang telah di rintis Pinhiero. Kantor Sindicato yang ditutup kini mulai beroperasi. Tanpa di duga pada awal beroperasinya kembali Sindicato, datanglah seorang film maker dokumenter bernama Steven Kyle. Ia mendapat info tentang Chico dari Regina dan ingin membuat film tentang kerusakan Amazone dan usaha-usaha menyelamatkannya. Kemudian film ini akan dikabarkan kepada dunia. Kini modal perjuangan bertambah satu lagi yaitu melalui media film dokumenter.

Ancaman teror kepada masyarakat-pun masih saja berlangsung. Akan tetapi kondisi ini tidak menyurutkan aksi damai warga. Aksi semakin gencar dilakukan, teror pun semakin sering terjadi. Korban jiwa pun kembali jatuh. Serangkaian peristiwa Ini membuat Chicho mencoba mencari jalan lain agar dapat segera menyelesaikan masalah. Salah satu cara yang dia pakai adalah dengan mengikuti pemilihan Gubernur Xapuri. Apabila terpilih maka ia akan dapat melindungi warganya. Dalam mengikuti pemilihan gubernur ini Chico mendapatkan lawan berat yaitu Galvalho, yang ternyata disponsori oleh Company Bordon dan pro terhadap modal dan pembangunan. Hasilnya sudah dapat diduga, Galvalho menang mutlak dan Chico hanya mendapatkan 10 % suara. Pada suatu hari Steven Kyle mengundang Chicho Mendes untuk menerima penghargaan dari PBB karena usahanya menyelamatkan hutan Amazone. Acara ini dilangsungkan di Florida, Miami, Amerika Serikat. Di sini ia mencari media untuk menyebarkan kabar bahwa telah terjadi pemiskinan terstruktur karena pembangunan dan pembukaan Amazone. Tuntutannya adalah diberhentikannya penebangan hutan dan pemberian pekerjaan bagi rakyatnya. Tuntutan Chico Ini mendapat sambutan yang luar biasa.

Setelah kembali dari Amerika ternyata Chicho keliru. Kepergiannya ke Amerika Serikat ternyata tidak membawa perubahanya yang nyata di Cachoeira. Bahkan sebaliknya Darli Alves dan tentara makin menindas rakyat, bahkan melakukan pembantaian. Chico semakin sadar akan fungsi media. Ia lalu mengabarkan pembantaian ini. Media pun mengangkatnya, jadilah berita pembantaian Cachoeira menjadi headline surat kabar di seantero dunia.

Kondisi ini membuat pihak Company Bordon gerah dan menginginkan perundingan terjadi. Maka dikirimlah Savero yang ditemani oleh Gubernur Galvalho. Perundingan alot pun terjadi. Perundingan ini dijaga ketat oleh pasukan keamanan nasional Brazil. Perundimgan ini diadakan sehari semalam. Akhirnya keputusan telah di ambil, pemerintah Brazil akan melindungi tanah Chachoiera sepenuhnya, menegakkan hukum seadil-adilnya dan sementara itu, pihak Company Bordon melepaskan semua lahan yang pernah ditempati dan mengembalikan tanah Chachoiera ke penduduk. Keputusan ini membuat kecewa Kelompok Darli Alves. Ia merasa dikhianati oleh Company Bordon dan merasa malu karena telah mengalami kekalahan oleh para warga Cachoeira. Maka demi melampiaskan dendam ini setelah beberapa kali lolos dari percobaan pembunuhan, dibunuhlah Chico Mendes pada 12 Maret 1990 dirumahnya. Kematian Chico ini telah menyadarkan dunia dan membuat negara-negara di dunia bersimpati, sehingga pada 12 Maret 1990 pemerintah memutuskan untuk menghentikan secara total pembabatan dan pembakaran hutan dan menamakan hutan hujan tropis di Brazil tersebut dengan nama “Suaka Alam Chico Mendes” untuk mengenang kegigihan Chico dalam upayanya untuk memberdayakan kaum buruh dan melindungi hutan di Brazil.

Lingkungan dan Pendidikan
Pernyataan bahwa pendidikan seseorang menentukan kualitas hidup orang tersebut dalam menjalani setiap aktivitasnya memang benar adanya. Tanpa adanya pendidikan yang berkualitas masyarakat akan semakin dekat dengan kebodohan serta akan berakibat pada ketertindasan. Dari ketertindasan inilah yang kemudian akan membawa seseorang di dalam masyarakat mengalami kemiskinan harta serta jiwa. Pada film The Burning Season ini diperlihatkan bagaimana seseorang menuruti perkembangan zaman yang semakin lama, semakin maju. Arus globalisasi yang sejalan dengan arus modernisasi membawa suatu perubahan yang cukup signifikan sekali terhadap gaya hidup serta orientasi seseorang.

Perubahan orientasi ini tentunya berakibat pada perkembangan masyarakat yang bersangkutan terhadap suatu hal. Salah satunya yaitu lingkungan. Dalam film ini diperlihatkan bagaimana kehidupan manusia di Chachoiera sangat bergantung kepada hutan Amazon. Ketergantungan ini merupakan suatu hubungan yang saling menguntungkan satu sama lainnya karena masyarakat di tempat tersebut memanfaatkan hutan sebagai lahan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Sehingga dengan begitu mereka sangat merawat hutan dengan baik sekali. Ketika ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju, maka ilmu pegetahuan itu dapat berkembang serta berkontribusi kepada alam. Bagi masyarakat modern alam ini dilihat sebagai suatu hal yang dapat diatasi dengan teknologi. Para masyarakat modern kini beranggapan bahwa dengan teknologi yang semakin maju mereka dapat mengatur hal-hal yang berkaitan dengan alam sendiri. Kondisi ini jelas berbeda dengan anggapan para masyarakat yang tinggal serta menggantungkan hidupnya sehari-hari dengan hutan. Dalam film The Burning Season jelas sekali terlihat bahwa alam sangat membawa manfaat yang sangat besar sekali terhadap kehidupan masyarakat. Sebagai salah satu yang mempunyai pusat pemerintahan di Xapuri, daerah Cachoeira dapat dikatakan sebagai salah satu daerah yang mempunyai lahan hutan yang sangat luas dan asri. Para masyarakat di daerah tersebut mempunyai pekerjaan sebagai penyadap pohon karet yang di ambil di dalam hutan. Mereka menggunakan teknologi sederhana untuk menghasilkan sadapan karet yangb diinginkan. Terlihat bahwa masyarakat di daerah ini sangat peduli terhadap kelestarian hutan yang mereka tempati, meskipun teknologi canggih dapat masuk kapan saja akan tetapi mereka tetap menggunakan cara sederhana yang tentunya lebih ramah lingkungan.

Ilmu pengetahuan yang di dapatkan seseorang tidakah cukup untuk menghadapi hal ini dibutuhkan sebuah realitas sosial yang kemudian mampu membentuk kesadaran pada diri seseorang. Kelompok masyarakat petani penyadap pohon karet itu-pun juga tersadar akan kemiskinan yang mereka rasakan sebagai timpangnya sistem dan kesempatan yang diberikan oleh pihak-pihak yang berkuasa. Lahan untuk mata pencaharian mereka sehari-hari pun ditebang habis demi satu kata yaitu pembangunan. Kondisi ini disadari oleh masyarakat Cachoeira melalui Wilson Pinhiero, Regina dan Chico Mendes. Mereka bertiga menjadi penggerak masyarakat untuk kehidupan mereka dan hutan yang lebih baik kedepannya.

Setelah organisasi ini terbentuk, gerakan-gerakan sosial mulai terjadi. Organisasi ini tidak hanya mempermudah untuk kerja sosial, akan tetapi juga untuk menjaga kekuatan serta keberlangsungan gerakan lingkungan yang mereka usung. Pada dasarnya organisasi ini dibentuk untuk mencapai tujuan bersama masyarakat yakni mempertahankan kelestarian hutan Amazone, berawal dari tujuan inilah Serikat Pekerja Pedesaan atau Sindicato dengan basis masyarakat penyadap karet dan tepian hutan Amazone terbentuk. Keyakinan akan ajaran Jesus dalam agama Katolik yang dipegang teguh, membuat masyarakat Cachoeira dipersatukan dalam sebuah koloni persemakmuran demi menuntut keadilan. Masyarakat ini meyakini bahwa mereka menemukan pemecahan sendiri dalam menghadapi tantangan hidupnya. Dengan cara dan modal sosial tersendiri, lokalitas dan kearifan lokal, maka masyarakat akan mampu menghadapi tantangan hidupnya.

Gerakan sosial yang terjadi dalam film ini merupakan salah satu gerakan sosial baru yang tentunya tidak menitik beratkan pada permasalahan-permasalahan politik saja. Terdapat beberapa hal yang menguatkan hal ini. Dalam gerakan sosial baru ini mpeningkatan realisasi dan kepercayaan diri masyarakat sipil yang tidak menempatkan nasib kemanusiaan di tangan negara dan harus tetap waspada terhadap penyakit-penyakit dari sistem politiknya, serta memiliki agensi atau pelaku-pelaku sejarah yang punya kemampuan mengubah medan pergerakannya dan transformasinya. Gerakan yang di motori oleh Chico dan teman-temannya ini adalah suatu gerakan untuk menyelamatkan lingkungan karena akan mengganggu kestabilan alam maupun masyarakat sekitar, karena dengan gerakan seperti ini masyarakat di ajak untuk bersama-sama menjaga hutan.

Kemudian gerakan sosial baru ingin mempertahankan masyarakat sipil dari kekuasaan politik dan mendefinisikan kembali budaya dan gaya hidup masyarakat sipil ketimbang mempengaruhi perubahan legislatif melalui negara. Izin pendirian peternakan oleh Company Bordon merupakan salah satu cara pemerintah yang menggunakan kekuasaan politik tanpa memikirkan dampaknya terhadap lingkungan, sehingga dampak-dampak yang terjadi tidak dapat teratasi dengan baik. Salah satu cara untuk mencegah hal ini terjadi yaitu seharusnya pemerintah daerah Brazil sebelum mengeluarkan izin pendirian jalan dan peternakan untuk suatu perusahaan melakukan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL). Dengan AMDAL kita dapat mengetahui Social Impact Assesment yang terjadi apabila pembangunan terus dilakukan tanpa memikirkan lingkungan. Hal ini sangat diperlukan karena dengan mengadakan analisis terlebih dahulu mengenai dampak yang akan terjadi terhadap lingkungan, pemerintah bisa mengetahui hal apa saja yang harus dilakukan untuk menanggulanginya. Dalam mengaplikasikan AMDAL terdapat salah satu agenda gerakan lingkungan yaitu pembangunan berkelanjutan (suistanaible development). Gerakan yang diprakarsai oleh Serikat pekerjaan pedesaan Sindicato merupakan sebuah gerakan yang muncul bukan karena faktor-faktor sosial, tetapi karena masalah obyektif lingkungan. Selain itu mereka pun percaya akan adanya Curupira yaitu mahluk yang menjaga hutan Amazone dari kerusakan manusia. Masyarakat sekitar mempercayai bahwa Curupira berwujud manusia cebol dengan kaki terbalik. Ia akan marah dan menyuruh jaguar untuk melawan perusakan hutan. Curupira inilah yang menjadi semangat untuk bersatu dan melawan yang diwujudkan dalam kumpulan “jaguar” yaitu Serikat pekerjaan Pedesaan Sindicato.

Pengalaman terhadap masalah lingkungan itu sendiri yang kemudian menjadi motif utama para masyarakat Cachoeira untuk melakukan gerakan penolakan penebangan hutan, tanpa adanya pengalaman terhadap masalah lingkungan itu akan sangat sulit bagi para masyarakat untuk mendefinisikan keberadaan masalah tersebut sehingga dapat meningkatkan kepedulian mereka terhadap kondisi lingkungan. Dalam film The Burning Season ini juga dapat dilihat bagaimana cara manusia mengetahui pengetahuan mengenai lingkungan. Contohnya ketika masih banyaknya masyarakat dunia yang tidak mengetahui apa permasalahan lingkungan di daerah Brazil, Chico mempunyai ide untuk membuat film dokumenter mengenai pembakaran hutan di daerahnya. Pembuatan film dokumenter oleh Steven Kyle mempunyai banyak keuntungan. Ini merupakan alat propaganda dalam menyebarkan kabar bahwa ada perusakan di Cachoeira dan pembantaian nyawa manusia akibat pembabatan hutan. Selain itu, film ini merupakan sarana untuk mendidik dan memproduksi wacana tandingan bahwa pembangunan yang dilaksanakan malah mengeksploitasi dan menghancurkan peradaban manusia. Banyak yang yakin bahwa jurnalistik mempunyai fungsi sosial bagi masyarakat. Ini pula yang dimanfaatkan oleh pergerakan Sindicato. Pengabaran ke seluruh belahan dunia, baik dengan media cetak maupun elektronika telah membuka mata masyarakat dibelahan dunia yang lain untuk tahu bahwa telah terjadi suatu peristiwa di Cachoeira.

Dengan hal tersebut Chico mulai memberitahukan kepada dunia bahwa pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah tidak memperhatikan dampak terhadap lingkungan sehingga menyebabkan lingkungan menjadi tidak asri seperti sedia kala. Selain itu masyarakat juga kehilangan lahan untuk mata pencaharian mereka. Untuk membuat hasil yang maksimal disini Chico telah melakukan tiga tahap dari Social Constructionism. Pertama, tahap assembling pada tahap ini klaim-klaim disusun menjadi suatu hal yang nyata dan diyakini oleh masyarakat. Chico sebagai pengambil alih pimpinan setelah Wilson Pinheiro meninggal dunia, mencari fakta-fakta yang menguatkan bahwa kerusakan hutan di daerah Cachoeira merupakan suatu hal yang disengaja. Kedua, tahap presenting pada tahap ini dilakukan cara-cara yang dapat menarik perhatian orang lain. Chico mempunyai caranya sendiri untuk hal ini yaitu mempresentasikan permasalahan ini kedalam forum PBB, sehingga membuat banyak dukungan yang mengalir bagi dirinya untuk tetap memperjuangkan hutan Amazone. Tahap terakhir yaitu contesting. Pada tahap ini isu lingkungan bersaing dengan masalah-masalah lainnya untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat. Dengan presetasinya Chico di forum internasional yang dilaksanakan oleh PBB, ia telah membwa permasalahan lingkungan menjadi suatu hal yang penting bagi keberlanjutan masyarakat yang hidup disekitar hutan pada khususnya dan masyarakat dunia pada umumnya. Karena pentingnya hal itu para pemimpin negara-negara yang ada di PBB mendukung Chico untuk terus berjuang agar daerah hutan Amazone tidak dijadikan lahan bisnis. Semangat juang yang pantang menyerah dalam mempertahankan sesuatu yang memang menjadi haknya, membuahkan hasil yang maksimal. Perjuangan melakukan kampanye untuk meyakinkan masyarakat mengenai dampak lingkungan yang ditimbulkan dan penggunaan cara-cara yang kreatif misalnya dengan pembuatan film dan pengabaran dengan jurnalistik merupakan suatu modal besar, sehingga membuat pihak Company Bordon membatalkan rencana pembangunan mereka di daerah Cachoeira.

Daftar Pustaka

Buku
Sutton, Phillip W. 2007. The Environment: A Sociological Introduction. Cambridge: Polity Press.
Susilo, Rachmad K. Dwi. 2008. Sosiologi Lingkungan. Jakarta: Rajawali Press.
World Bank. 2001a. “Indonesia: Environment and Natural Resource Management in a Time of Transition.” Jakarta: World Bank.———. 2001b. Integrated Swamps Development Project, Rural Development and Natural Resources Sector Unit East Asia and Pacific Region. Implementation Completion Report. Jakarta: World Bank.

Internet
http://books.google.co.id/books?id=gvwC4Ojo9fEC&dq=The+burning+season&printsec=frontcover&source=bl&ots=xY_y50igL0&sig=HM5xPlM6ri5DqEQh7ViaKmQvn6U&hl=id&ei=YwkJS5m-F82PkQXBnoHfCQ&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=13&ved=0CDUQ6AEwDA#v=onepage&q=&f=false, diakses pada tanggal 19 November 2009 pukul 22.09
http://www.encyclopedia.com/doc/1G2-3404707413.html, diakses pada tanggal 20 November 2009 pukul 23.34

RESTORASI PENDIDIKAN INDONESIA


Bagaimana kita mendobrak Potret Buram Pendidikan Indonesia ? maka temukan jawabannya di buku ini “RESTORASI PENDIDIKAN INDONESIA”, Menuju Masyarakat terdidik dan berbudaya Oleh Tim Kreatif LKM UNJ

( Universitas Negeri Jakarta )

Kata Pengantar : Prof. H.A.R Tillaar Guru besar UNJ

Penerbit : AR-RuZZ Media
ISBN : 978-979-25-4817-4
Tebal : 196 hal
Harga : Rp. 25.000,- ( Blm termasuk Ongkir )
Cetakan I 2011

Bagi yang berminat silahkan hubungi via SMS saja ke 085721023022 atau lewat inbox di FB saya, Terima kasih

Utrecht


AIR
Sungai, muara dan laut menjadi keruh karena sampah plastik. Air
dan aku kehilangan ruh  ( Dalam buku Antologi Fiksimini  )

 

Jika saja sungai di kota-kota besar Indonesia ingin seperti ini, syarat utamanya sederhana, tidak boleh buang sampah di sungai. Apakah kita sudah bisa ? lihat saja Sungai Utrecht di Belanda ini memang layak ditiru. Selain bersih, sungai ini juga dijadikan sebagai lahan rumah dan restaurant terapung,  tentu saja sarana transportasi air untuk perahu-perahu kecil ini juga sangat menarik untuk di jadikan obyek wisata bagi para wisatawan, sayangnya di Indonesia kini air sungai menjadi lebih kotor oleh sampah.

Rumah Buku


Kumpulan Cerpen, Kumpulan Puisi dan Novel.    Ada beberapa koleksi buku untuk kamu-kamu yang suka baca, suka juga baca puisi dan prosa, suka juga keindahan dan seni merangkai kata.   Lengkapi sekarang juga koleksi bukumu.

Antologi Fiksimini


Antologi Fiksimini

fiksi mini di atas dimuat dalam buku ANTOLOGI 600 FIKSI MINI yang memuat lebih dari 600 buah fiksi mini sejenis, yakni karya fiksi yang berformat mini karya 26 pengarang Indonesia. Meski dalam ukuran mini, para pengarang –yang umumnya penyair dan prosais— ini mencoba mengajak pembacanya ke alam kesadaran baru. Kadang berupa tawa, yang tak semua menghibur memang, karena kadang ada ironi di dalamnya. Yang jelas, pembaca dibebaskan menafsirkan sendiri sesuai imajinasi, ilusi dan fantasinya.

Copyright @Komunitas 26 Penulis Fiksimini

Kurator dan editor :  Kurniawan Junaedhi dan Soni Farid Maulana

Epilog : Wahyu Wibowo

Prolog : Soni Farid Maulana

ISBN  :  978-602-8966-23-8

Tebal 222 hal.

harga Rp. 40.000,- (blm. termasuk ongkir)

Penerbit : KOSAKATAKITA